Minggu, 02 Februari 2020

MOTIVATION




v Jangan terpukau dengan masa lalu, tapi gelisahlah dengan masa depan.

v Jangan puas dengan apa yang sudah kita lakukan, tapi merasalah apa yang telah kita kerjakan belum seberapa.

v Tumbuhkan keyakinan diri, bahwa kemenangan itu muncul dari ruang-ruang kelas, dari ruang-ruang surau, dari ruang-ruang keluarga.

v Seribu kebaikan seringkali tidak berarti, tetapi setitik kekurangan selalu diingat dan didendami seumur hidup.

v Sehati bukan karena saling memberi, tetapi sehati karena saling memahami.

v Bersama bukan karena melihat siapa dia, tetapi bersama karena saling mengisi dan melengkapi.

v Indah bukan karena selalu mendapat kemudahan, tetapi indah karena kesusahan kita hadapi bersama.

v Bersyukur bukan karena mendapat kebahagiaan, tetapi bahagia karena kita senantiasa bersyukur dalam setiap keadaan.

v Orang kuat selalu mencari dan mengembangkan potensi dirinya, orang lemah mencari sesuatu pada diri orang lain.

v Orang yang hebat tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan tetapi mereka dibentuk melalui kesulitan, tantangan dan bahkanair mata.

v Teruslah melangkah selama engkau di jalan yang benar, meski terkadang kebaikan tidak selalu dihargai.

v Jangan menunggu waktu luang untuk melakukan yang baik, tapi luangkan waktu untu berikan yang terbaik.

WANITA PERTAMA YANG MASUK SURGA


SITI MUTI’AH WANITA YANG PERTAMA MASUK SURGA

          Suatu ketika, Siti Fatimah bertanya kepada Rasulullah. Siapakah perempuan yang kelak pertama kali masuk surga? Rasulullah menjawab: “Dia adalah seorang wanita yang bernama Muti’ah.”
          Siti Fatimah terkejut. Ternyata bukan dirinya, seperti yang dibayangkannya. mengapa justru orang lain, padahal dia adalah putri Rasulullah sendiri. maka, timbullah keinginan Fatimah untuk mengetahui siapakah gerangan perempuan itu? Dan apakah yang telah diperbuatnya hingga dia mendapat kehormatan yang begitu tinggi?
          Setelah meminta izin kepada suaminya, Ali bin Abi Thalib, Siti Fatimah berangkat mencari rumah kediaman Muti’ah. Putranya yang masih kecil yang bernama Hasan diajak ikut serta.
          Ketika tiba di rumah Muti’ah, Siti Fatimah mengetuk pintu seraya memberi salam, “Assalamu’alaikum.....!”
“Wa’alaikumsalam! Siapa di luar?” terdengar jawaban yang lemah lembut dari dalam rumah. Suaranya cerah dan merdu.
“Saya Fatimah, Putri Rasulullah,” sahut Fatimah kembali.
“alhamdulillah, alangkah bahagia saya hari ini Fatimah, putri Rasulullah, sudi berkunjung ke gubug saya,” terdengar kembali jawaban dari dalam. Suara itu terdengar ceria dan semakin mendekat ke pintu.
“Sendirian, Fatimah?” tanya seorang perempuan sebaya dengan Fatimah, yaitu Muti’ah seraya membukakan pintu.
“Aku ditemani Hasan,” jawab Fatimah.
“Aduh maaf ya,” kata Muti’ah, suaranya terdengar menyesal. Saya belum mendapat izin dari suami saya untuk menerima tamu laki-laki.”
“Tapi Hasan kan masih kecil?” jelas Fatimah.
“Meskipun kecil, Hasan adalah seorang laki-laki. Besok saja anda datang lagi, ya... saya akan meminta izin dulu kepada suami saya,” kata Muti’ah dengan menyesal.
Sambil menggeleng-gelengkan kepala, Fatimah pamit dan kembali pulang.
          Besoknya, Fatimah datang lagi ke rumah Muti’ah, kali ini ia ditemani Hasan dan Husain. Bertiga mereka mendatangi rumah Muti’ah. Setelah memberi salam dan dijawab gembira, masih dalam rumah Muti’ah bertanya: “Kau masih ditemani oleh Hasan, Fatimah? Suami saya sudah memberi izin.”
Fatimah menjawab, “Saya ditemani Hasan dan Husain.” “Ha? Kenapa kemarin tidak bilang? Yang dapat izin Cuma Hasan, dan Husain belum. Terpaksa saya tidak bisa menerima juga.” Dengan perasaan menyesal, Muti’ah kali ini juga menolak.
          Hari itu Fatimah gagal lagi untuk bertemu dengan Muti’ah. Dan keesokan harinya, Fatimah kembali lagi, mereka disambut baik oleh perempuan itu di rumahnya.
          Keadaan rumah Muti’ah sangat sederhana, tak ada satupun perabot mewah yang menghiasi rumah itu. Namun, semuanya teratur rapi. Tempat tidur yang terbuat dengan kasar juga terlihat bersih, alasnya yang putih, dan baru dicuci. Bau dalam ruangan itu harum dan sangat segar, membuat orang betah tinggal di rumah.
          Fatimah sangat kagum melihat suasana yang sangat menyenangkan itu, sehingga Hasan dan Husain yang biasanya tak begitu betah betah berada di rumah orang, kali ini nampak asik bermain-main.
“Maaf ya, saya tak bisa menemani Fatimah duduk dengan tenang, sebab saya harus menyiapkan makan buat suami saya,” kata Muti’ah sambil mondar mandir dari dapur ke ruang tamu.
          Mendekati tengah hari, masakan itu sudah siap semuanya, kemudian ditaruh di atas nampan. Muti’ah mengambil cambuk, yang juga ditaruh di atas nampan.
“Suamimu bekerja di mana?” Tanya Fatimah
“Di ladang,” jawab Muti’ah.
“Pengembala?” tanya Fatimah lagi.
“Bukan. Bercocok tanam.”
“Tapi mengapa engkau bawakan cambuk?”
“Oh itu?” sahut Muti’ah dengan tersenyum. “Cambuk itu kusediakan untuk keperluan lain. Maksudnya begini, kalau suami saya sedang maka, lalu kutanyakan apakah masakan saya cocok atau tidak? Kalau dia mengatakan cocok, maka tak akan terjadi apa-apap. Tetapi kalau dia bilang tidak cocok, cambuk itu akan saya berikan kepadanya, agar punggung saya dicambuknya, sebab berarti saya tidak bisa melayani suami dan menyenangkan hatinya.”
“Apakah itu kehendak suamimu?” tanya Fatimah keheranan.
“Oh, bukan! Suami saya adalah seorang penuh kasih sayang. Ini semua adalah kehendakku sendiri, agar aku jangan sampai menjadi istri yang durhaka kepada suami.”
          Mendengar penjelasan itu, Fatimah menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian ia meminta diri, pamit pulang.
“Pantas kalau Muti’ah kelak menjadi seorang perempuan yang pertama kali masuk surga,” kata Fatimah dalam hati, di tengah perjalanannya pulang, “Dia sangat berbakti kepada suami dengan tulus. Prilaku kesetiaan semacam itu bukanlah lambang perbudakan wanita oleh kaum lelaki, tapi merupakan cermin bagi citra ketulusan dan pengorbanan kaum wanita yang harus dihargai dengan prilaku yang sama.”
          Tak hanya itu, saat itu masih ada benda kipas dan kain kecil.
“Buat apa benda ini Muti’ah?” Siti Muti’ah tersenyum malu. Namun setelah didesak, iapun bercerita “Engkau tahu Fatimah, suamiku seorang pekerja keras memeras keringat dari hari ke hari. Aku sangat sayang dan hormat kepadanya. Begitu kulihat ia pulang kerja, cepat-cepat kusambut kedatangannya. Kubuka bajunya, kulap tubuhnya dangan kain kecil ini hingga kering keringatnya. Ia pun berbaring di tempat tidur melepas lelah, lalu aku kipasi beliau hingga lelahnya hilang atau tertidur pulas.”
        Sungguh mulia Siti Muti’ah, wanita yang taat kepada suaminya. Maka tidaklah salah jika dia wanita pertama yang masuk surga.




                                                                                                  

Rabu, 22 Januari 2020

Mengapa Harus Ambruk?



MENGAPA HARUS AMBRUK?


Kehidupan itu pertempuran baik buruk selamanya.

Ketika keburukan kemaksiatan  merajalela di wilayah muslim itu artinya kebaikan dan kebenaran telah kalah, telah runtuh.

ketika orang-orang baik hanya bisa diam atas berkuasanya keburukan, maka kebaikan orang baik itu lumpuh, dan tidak akan sanggup menanggung keruntuhan moral, kebaikan dan kebenaran hakiki.

Ketika penyangga-penyangga rohmat Allah terlalu kecil sedang beban aib dan dosa diatasnya terlalu berat. Maka pasti akan runtuh.

Ketika orang begitu sibuknya melampiaskan hasrat dunia, tenggelam dalam lautan nafsu, sedangkan penarik rahmat Allah, ahli-ahli dzikir terlalu sedikit.
Yang ada hanyalah kelompok dzikir formalitas, jama'ah formalitas, thoriqoh basa-basi, tanpa istiqomah hakiki, maka keruntuhan itu pasti akan terjadi.

Jangan pernah menyalahkan Dia Yang Maha Pengasih, jika menggetarkan cambuk-Nya untuk melucut ruhani suci agar lebih waspada, lebih kencang berlari, lebih kuat menarik rahmat kasih sayang-Nya.

Damai hanya ada saat kebaikan dari ahlinya Allah memadahi untuk menanggung beban salah dan dosa.
Damai hanya terjadi bila ahlinya Allah menguasai ahli dunia, dan menuntunnya.
Damai itu jaminan Allah atas mereka yang lisan, hati, sikap dan perbuatannya benar-benar mentauhidkan Allah.

Bukankah dalam hadis qudsinya berasabda:
"La ilaha illah hishni faman dakhola hishni kana aminan bi (La ilaha illalloh itu bentengKu -kata Allah-, siapa yang masuk kedalamnya, maka ia aman bersamaku." (Al-Hadis)

Mari kita paksa-paksakan bibir yang cuma senang bernyanyi-nyanyi ini dengan dzikir. Mari kita paksa-paksakan bibir yang cuma senang diam membisu ini untuk istiqomah berdzikir.

Jika orang yang meradang sakit masih selalu saja malas minum obat, lantas kapan sembuhnya?
jika damai tidak pernah lagi dipinta lantas apa jaminan keamanan akan tetap berlangsung?

Fafirru Ilallah...

Allahumma sallimna
Allahumma tsabbitna
Allahumma khollishna
Aamiin



(Ciputat, 9-8-2018
Khodimul Mihrobul Muhibbin)